Meningkatkan Keikhlasan dalam Pengabdian dan Ketaatan

0

KH. Miftachul Akhyar (Rais Aam PBNU) 

Perlahan tapi pasti, suasana Ramadhan yang dipenuhi berbagai aktivitas ibadah dan kebajikan mulai berubah. Setelah menikmati masa “panen raya” pahala selama sebulan penuh, sebagian besar umat Islam umumnya telah kembali kepada kesibukan harian seperti semula. Padahal, idealnya, memasuki bulan Syawal, kita semakin menambah nilai ibadah dan pengabdian kita kepada Allah Subhânahû wa Ta’âlâ. Sebab, sesuai artinya, Syawal adalah bulan peningkatan.

Secara simbolik, ulama-ulama terdahulu telah memberi teladan dengan menjadikan Syawal sebagai bulan untuk memulai kenaikan kelas dan tahun ajaran baru di pesantren. Artinya, kita seharusnya semakin meningkatkan kualitas ibadah di bulan Syawal dan 10 bulan setelahnya, bukan malah mengendorkannya. Setidaknya, kita dapat mempertahankan capaian ibadah dan kebaikan yang telah kita peroleh selama Ramadhan di bulan-bulan yang lain.

Dalam kaitan ini, ada sebuah kalam hikmah dari Syaikh Ibnu Athâ’illah Assakandary yang patut kita renungkan sebagai bahan evaluasi. Beliau berkata:

كَيْفَ تَطْلُبُ الْعِوَضَ عَلَى عَمَلٍ هُوَ مُتَصَدِّقٌ بِهِ عَلَيْكَ, أَمْ كَيْفَ تَطْلُبُ الْجَزَاءَ عَلَى صِدْقٍ هُوَ مُهْدِيْهِ إِلَيْكَ؟

Bagaimana engkau dapat menuntut imbalan atas amal, padahal justru Allah yang menyedekahkan amal itu untukmu? Bagaimana (pula) engkau dapat meminta ganjaran atas kejujuran/keikhlasan (ibadahmu), padahal Allah yang menghadiahkan keikhlasan itu kepadamu.

Salah satu praktik kecil dari nasehat Syaikh Ibnu Athâ’illah Assakandary di atas adalah apa yang kita rasakan saat menghadiri kegiatan kajian, ta’allum, dan tadarus rutin, selepas menikmati liburan Hari Raya Idul Fitri. Kita harus menyadari bahwa semua kemampuan dan kehadiran kita dalam kegiatan-kegiatan semacam itu adalah murni karena anugerah Allah Subhânahû wa Ta’âlâ.

Dengan kata lain, Allah memberikan sedekah dan hadiah berupa kemampuan kepada kita untuk bisa membuka lembaran-lembaran baru lagi setelah libur Hari Raya, guna melanjutkan kebaikan-kebaikan yang telah kita lakukan sebelumnya. Itu merupakan sedekah atau hadiah Allah kepada kita.

Baca Juga :  Ngaji Qonun Asasi NU Bareng Gus Yahya (7)

Dalam petuah yang dikutip di atas, Syaikh Ibnu Athâ’illah Assakandary memberikan catatan koreksi terhadap keinginan kita yang selalu ingin mendapatkan pahala dari Allah. Entah berupa lipatan pahala, surga, bidadari, atau kenikmatan-kenikmatan lain yang dijanjikan sebagai balasan amal sholeh. Jika sebelum ini kita cenderung beramal dengan perhitungan mencari ganjaran pahala yang lebih besar, memilih momentum yang pahalanya berlipat, dan semacamnya, kita dianjurkan untuk mulai meninggalkan model-model amal yang penuh perhitungan seperti itu.

Apakah hal itu salah? Tidak!!!

Kecenderungan dan model amal kita kemarin, karena maqam kita memang masih di situ. Maqam kita masih melihat kalkulasi pahala dari setiap amal kebaikan yang kita kerjakan. Kita selalu membandingkan, mana pahala yang lebih besar dan mana yang lebih kecil, lalu kita ambil yang pahalanya lebih besar. Itu sebuah pilihan. Tapi semua itu disarankan untuk mulai ditinggalkan. Sekali lagi, hal itu bukan kesalahan, tapi soal maqam.

Tegasnya, memang kelas dan tahapan beramal kita kemarin masih di maqam itu. Seperti proses belajar seseorang, mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD), taman kanak-kanak (TK), lalu berlanjut ke madrasah ibtidayah (MI) dan seterusnya. Pada setiap jenjang pendidikan, motivasi dan pendekatannya tentu berbeda-beda.

Kalau sekarang kita ditakdirkan untuk mempelajari bab ini, harus kita syukuri. Semoga ini menjadi pertanda bahwa kita memang dikehendaki untuk bisa menapak ke maqam yang lebih tinggi. Minimal, kita diperkenalkan dulu ke maqam itu, meski mungkin belum sampai ke sana. Dengan mengenali maqam itu, semoga kita tidak menjadi manusia yang kagetan dan mudah terheran-heran.

Lebih dari itu, mudah-mudahan semua amal ibadah kita selama Ramadhan kemarin, termasuk puasa kita, diterima oleh Allah Subhânahû wa Ta’âlâ. Semoga Ramadhan yang kemarin bersama-sama dengan kita, akan merindukan kita di tahun-tahun yang akan datang.

Kembali kepada petuah Syaikh Ibnu Athâ’illah, beliau menegaskan bahwa kemampuan kita untuk melakukan amal kebaikan adalah semata-mata sedekah dari Allah. Bukan hasil kekuatan kita sendiri. Banyak orang yang ingin mengaji, misalnya, tapi tidak bisa melaksanakan keinginan tersebut karena kadung banyak urusan dan kesibukan. Alasan kesibukan seperti itu, banyak digunakan oleh orang-orang munafik. Karenanya, kita harus berhati-hati jika sering beralasan tidak bisa mengaji karena kesibukan.

Baca Juga :  MERAWAT JAGAT MEMBANGUN PERADABAN

Syaikh Ibnu Athâ’illah menggunakan kata “sedekah” untuk menyebut pemberian Allah tersebut, karena sedekah mengandung unsur belas kasihan. Pasalnya, kita ini pada dasarnya memang kere dan layak dikasihani. Pada kalimat berikutnya, ketika membahas keikhlasan, beliau menyebut pemberian itu dengan kata “hadiah”. Ini adalah maqam yang lebih tinggi, karena hadiah cenderung diberikan sebab ada unsur mahabbah (kecintaan).

Dalam surat Al-Mujâdalah ayat 11 Allah Subhânahû wa Ta’âlâ berfirman:

﴿ يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ﴾

Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Redaksi yang digunakan dalam ayat tersebut adalah “ûtu-l ilma”, orang-orang yang diberi (anugerah) ilmu. Jadi kita mampu menuntut ilmu atau ikut mengaji itu pun merupakan anugerah Allah, bukan karena kekuatan kita. Adapun janji Allah untuk mengangkat derajat orang-orang yang diberi ilmu dalam ayat itu pasti benar. Tapi, kita pasrahkan saja hal itu kepada Allah. Tidak perlu dikalkulasi.

Sahabat Ibnu Abbas Radhiyallâhu ‘Anhu menyatakan bahwa derajat orang mukmin biasa dengan ulama (mukmin yang dianugerahi ilmu) terpaut perbedaan hingga 700 derajat. Dan, jarak antar tiap derajatnya ditempuh dengan perjalanan 500 tahun. Tapi, sekali lagi, hal itu tidak perlu dikalkulasi.

Syaikh Ibnu Athâ’illah mengajak kita untuk bertanya kepada diri sendiri, bagaimana mungkin kita beramal, lalu meminta imbalan pahala berlipat-lipat. Padahal yang memberikan kita kemampuan beramal itu adalah Allah. Pada hakikatnya, kita tidak punya apa-apa, meski diberi ruang untuk ikhtiar. Tapi, sekali lagi, itu maqam yang tinggi, belum maqam kita. Yang terpenting, ada upaya kita untuk berusaha naik kelas.

Baca Juga :  ISTIGHRĀQ: Tenggelam Dalam Dzikir Menuju Mahabbah Kepada Allah S.W.T.

Dalam surah Hûd ayat 61 Allah Subhânahû wa Ta’âlâ berfirman:

﴿ هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا ﴾

“Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.”

Hubungan kita dengan Allah tidak seperti hubungan buruh dengan pemilik perusahaan. Sebab, dalam sebuah perusahaan, buruh bekerja atau mengabdi untuk sesuatu yang menghasilkan keuntungan bagi pemilik perusahaan. Maka, wajar jika buruh meminta upah. Sedangkan hubungan kita kepada Allah tidak demikian. Sebab, Allah sebenarnya tidak membutuhkan semua ibadah dan pengabdian kita kepada-Nya.

Seandainya seisi dunia taat, tunduk dan patuh serta mengabdi kepada Allah, Dia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari ketaatan tersebut. Sebaliknya, jika seisi dunia durhaka, membangkang dan kufur, Allah sedikitpun tidak terganggu atau mengalami kerugian dari kekufuran tersebut. Karena Allah adalah Dzat yang Maha Mutlak.

Jadi, manfaat dari setiap ibadah dan pengabdian manusia kepada Allah sejatinya kembali kepada diri mereka sendiri. Tidak ada sedikitpun manfaat yang kembali kepada Allah. Pada diri orang yang ikhlas, tentu pahalanya jauh lebih banyak. Itupun tidak layak disebut ikhlas jika masih terbersit di hatinya soal imbalan dan ganjaran. Karena, sebagaimana petuah Syaikh Ibnu Athâ’illah, keikhlasan itu sendiri adalah hadiah dari Allah.

Akhirnya, mari terus berusaha meningkatkan keikhlasan dalam setiap pengabdian dan ketaatan kita kepada Allah. Balasan dan ganjaran setiap amal memang menjadi janji Allah, dan memenuhi janji itu adalah hak Allah. Tapi, kita tidak bisa ngotot bahwa Allah harus membalas setiap amal baik kita. Sebab, pada hakikatnya, kemampuan yang kita miliki adalah murni karena anugerah dan kedermawanan Allah jua. Wallâhu a’lam. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.