Gus Dur, NU dan Nabi Khidlir

0

 

Gus Dur dengan karomah yang dimilikinya itu bermacam-macam, konon bisa berkomunikasi dengan Wali Allah yang telah wafat, bahkan berkomunikasi dengan Nabi Khidir.

 

KH Misbahus Salam pernah menceritakan terkait karomah Gus Dur. Ia berkisah soal terpilihnya Gus Dur saat menjadi Ketua Umum PBNU pada Muktamar 1984 yang konon dipilih oleh Nabi Khidir.

 

 

“Pada saat Gus Dur sedang cuci darah di rumah sakit saya dan Lora Sholeh diperkenankan sowan dan masuk ke kamar Gus Dur yang sedang dirawat. Pada saat itu kurang lebih satu bulan sebelum Gus Dur pulang ke Rahmatullah,” kata Kiai Misbah dikutip CirebonTimes.

 

Kyai Misbah menceritakan bahwa ia dan Lora Sholeh diterima oleh Gus Dur dan dipersilahkan duduk di kursi yang ada.

 

Gus Dur tetap berbincang dengan tangan diinfus, namun kondisi beliau terlihat sehat. Bahkan Gus Dur mengajak diskusi dan bercerita hal-hal yang lucu hingga membuat kami tertawa. Sehingga kami cukup lama dan betah di ruang kamar tersebut,” ujar Kiai Misbah.

 

 

Ia melanjutkan, Gus Dur juga bercerita bahwa pada saat Muktamar NU tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Sukorejo, saat itu Gus Dur duduk bersama KH Raden As’ad Syamsul Arifin.

 

Sedangkan forum Muktamar NU telah memutuskan bahwa untuk menentukan Rois Am dan Ketua Umum PBNU dengan Ahlul Halli wal Aqdi tunggal, yaitu dipegang oleh KH Raden As’ad Syamsul Arifin.

 

“Dengan keputusan itu, tentu banyak Kiai yang mengusulkan pada Kiai As’ad terkait dengan penentuan itu,” kata Kiai Misbah.

 

“Saya saat itu sedang bicara dengan Kiai As’ad, tiba-tiba datang Kiai dari daerah Malang dan langsung matur pada Kiai As’ad agar Ketua Umum PBNU diberikan pada Kiai Tholhah,” kata Gus Dur.

Baca Juga :  Gus Ulil: Memperluas Khidmah Lingkup Nasional dan Internasional

 

Spontan, Kiai As’ad dawuh demikian “Tidak! Nabi Khidir baru saja meninggalkan tempat ini dan tetap menunjuk Gus Dur jadi Ketua Umum PBNU,”

 

“Kami yang mendengar cerita ini berpikir, berarti Nabi Khidir, Kiai As’ad, dan Gus Dur sebelum Kiai dari Malang itu datang sedang bincang-bincang terkait siapa yang akan menahkodai atau memimpin NU,” kata Kiai Misbah.

 

 

“Bila kita ambil filosofi Sufi dari cerita ini, berarti Nahdlatul Ulama ini organisasi yang dijaga oleh para kekasih Allah Swt,” ujar Kiai Misbah.

 

“Dulu Almarhum KH Hasyim Muzadi dawuh ‘NU ini punya komisaris, dan pengurus yang ada ini hanya direktur yang sewaktu-waktu bisa ganti, tapi sang pemilik NU akan selalu menjaga NU,” tutur Kiai Misbah.

 

Kyai Misbah juga menceritakan bahwasannya dirinya pernah mendapat dawuh dari Almarhum KH Khatib Umar Sumber Wringin.

 

“Misbah, kamu jadi pengurus NU pegang kalimat ini Sirrul Wali bilwali, wasirul ulama bil Ulama, rahasia Wali itu yang tahu hanya orang Wali, dan rahasia ulama itu juga yang tahu hanya ulama,” kata Kiai Khatib kepada Kiai Misbah.

 

Menurut Kyai Misbah, cerita ini sebenarnya mengandung makna bahwasannya kita harus hati-hati menjadi pengurus NU, karena pengurus NU akan menjalankan amanah perjuangan ulama yang notabene pewaris para Nabi.

 

“Bila sikap dan Amaliah tidak sesuai dengan keinginan komisaris NU khawatir ada keadilan Allah yang akan menimpa pada dirinya,” ucap Kiai Misbah. (*)

Leave A Reply

Your email address will not be published.