Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (Mustasyar PBNU)
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. يَا أَيُهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: وَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيُٓٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ. قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ.
Hadirin jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Alhamdulillah, tidak terasa kini kita memasuki tahun yang baru, yakni tahun baru 2024. Sebagai seorang muslim, hendaknya menjadikan tahun yang baru ini sebagai momen penting untuk merenung tentang perjalanan hidup, pencapaian, dan pembelajaran yang diperoleh selama tahun sebelumnya. Karena itu, sebelum memulai khutbah singkat ini, khatib akan mengajukan pertanyaan: Apa saja pencapaian terbesar kita selama tahun 2023? Bagaimana kita merasakan pencapaian tersebut? Juga, apakah ada kegagalan atau kesulitan yang dapat kita identifikasi? Bagaimana kita dapat belajar dan bersyukur atas apa yang telah dicapai dan dilalui selama setahun terakhir ini? Allah s.w.t. berfirman:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi pegangan hidup dan pedoman bagi manusia yang beriman serta mengikuti petunjuk para nabi dan rasul. Dua kelompok umat manusia ini, adalah orang-orang mukmin dan orang-orang kafir yang diketahui dengan jelas dari perilaku mereka. Orang-orang mukmin adalah mereka yang beriman kepada al-Qur’an, mewujudkan amal yang shaleh dan kemaslahatan umum bagi umat manusia. Sedangkan orang-orang kafir atau musyrik, mereka menolak petunjuk dan pedoman yang berasal dari wahyu Allah tersebut. Mereka selalu memusuhi kebenaran dan keadilan, berbuat kerusakan di muka bumi, dan melakukan berbagai jenis kejahatan.
Allah s.w.t. Maha Mengetahui terhadap kedua kelompok itu, dan akan memberikan balasan sesuai dengan perilaku mereka masing-masing. Mereka yang beriman dan beramal shaleh, serta mendatangkan kemaslahatan umum bagi segenap makhluk, akan mendapat balasan dari Allah s.w.t., berupa kebahagiaan dan keselamatan, baik di dunia, maupun di akhirat. Sebaliknya orang-orang kafir dan musyrik yang senantiasa berbuat kerusakan dan melakukan berbagai macam dosa, akan dibalas dengan azab yang mengerikan, baik dalam kehidupan dunia, apalagi dalam kehidupan akhirat.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Allah s.w.t. mengarahkan pada Nabi Muhammad s.a.w. untuk bersikap tegas dan memisahkan kedua kelompok tadi, yaitu orang-orang mukmin dan kafir dengan pemisahan yang jelas.
وَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل لِّي عَمَلِي وَلَكُمۡ عَمَلُكُمۡۖ أَنتُم بَرِيُٓٔونَ مِمَّآ أَعۡمَلُ وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ
Jika mereka mendustakanmu, maka katakanlah: “Bagiku amal perbuatanku dan bagimu amal perbuatanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu lakukan”.(QS. Yunus, 10:41).
Sekiranya sebagian manusia, yaitu kelompok orang-orang musyrik dan kafir menolak ajakan Nabi dan mendustakannya, maka dikatakan kepada mereka dengan tegas: Bagiku amal perbuatanku, dan bagimu adalah amal perbuatanmu. Setiap diri manusia akan mempertanggung-jawabkan semua aktivitasnya. Mereka yang berbuat kebajikan akan dibalas dengan kebajikan pula, sebaliknya mereka yang merusak dan menyengsarakan manusia, akan dibalas dengan azab yang mengerikan. Setiap orang terlepas dari tanggung jawabnya terhadap orang lain, dan iapun tidak bisa meminta perlindungan kepada sesama umat manusia. Karena hakikat perlindungan yang sesungguhnya datang dari Allah s.w.t.. Setiap orang bertanggung jawab atas amal perbuatannya masing-masing.
قُلۡ كُلّٞ يَعۡمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِۦ فَرَبُّكُمۡ أَعۡلَمُ بِمَنۡ هُوَ أَهۡدَىٰ سَبِيلٗا
Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. al-Isra, 17:84).
Nabi s.a.w. menegaskan di dalam sabdanya:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang di pimpin, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, setiap kepala keluarga adalah pemimpin anggota keluarganya dan dia dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya, dan isteri pemimpin terhadap keluarga rumah suaminya dan juga anak-anaknya, dan dia akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap mereka, dan budak seseorang juga pemimpin terhadap harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban terhadapnya, ketahuilah, setiap kalian adalah bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. (HR. Bukhari, 6605).
Allah s.w.t. tidak akan membebani seseorang karena dosa orang lain dan tidak akan memberikan balasan kebaikan, kecuali hanya bagi pelaku kebaikan itu. Masing-masing akan mendapatkan balasan sesuai dengan amal perbuatannya. Setiap orang dibebaskan dari tanggung jawabnya terhadap orang lain dan orang lain pun tidak akan diberi beban untuk amal perbuatan yang kita lakukan. Kita berlepas diri dari dosa mereka dan merepun berlepas dari dari amal perbuatan yang kita lakukan.
أَمۡ يَقُولُونَ ٱفۡتَرَىٰهُۖ قُلۡ إِنِ ٱفۡتَرَيۡتُهُۥ فَعَلَيَّ إِجۡرَامِي وَأَنَا۠ بَرِيٓءٞ مِّمَّا تُجۡرِمُونَ
Malahan kaum Nuh itu berkata: “Dia cuma membuat-buat nasihatnya saja”. Katakanlah: “Jika aku membuat-buat nasihat itu, maka hanya akulah yang memikul dosaku, dan aku berlepas diri dari dosa yang kamu perbuat”. (QS. Hud, 11:35).
Nabi Muhammad s.a.w. terlepas dari tanggung jawab terhadap mereka yang tidak beriman, karena tugas beliau hanyalah menyampaikan kebenaran pada umatnya. Karena itu, bagi umat manusia yang menerima bimbingan dari Nabi s.a.w. akan memperoleh kesuksesan dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Sebaliknya mereka yang menentang dan menolak ajaran Nabi Muhammad s.a.w. akan menerima akibatnya, yaitu tercampakkan dalam kubangan kehinaan, baik pada masa kini, maupun pada masa yang akan datang.
فَإِنۡ عَصَوۡكَ فَقُلۡ إِنِّي بَرِيٓءٞ مِّمَّا تَعۡمَلُونَ
Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: “Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Syuara, 26:216).
Kaum Muslimin yang kami muliakan
Meskipun begitu, di antara orang-orang kafir yang mendustakan al-Qur’an, ada sekelompok kecil dari mereka yang secara sembunyi-sembunyi memperhatikan ayat-ayat al-Qur’an tersebut.
وَمِنۡهُم مَّن يَسۡتَمِعُونَ إِلَيۡكَۚ أَفَأَنتَ تُسۡمِعُ ٱلصُّمَّ وَلَوۡ كَانُواْ لَا يَعۡقِلُونَ
Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkanmu. Apakah kamu dapat menjadikan orang-orang tuli itu mendengar walaupun mereka tidak mengerti. (QS. Yunus, 10:42).
Mereka juga memperhatikan pondasi ajaran agama yang terkandung di dalamnya, dan mereka mengakui kebenaran ajaran itu dalam hatinya. Akan tetapi karena kesombongan dan keangkuhan, mereka menolak dengan terang-terangan. Sebenarnya dalam hati kecil mereka mengakui bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang dibawa Nabi Muhammad adalah merupakan petunjuk dari Allah yang mengantarkan manusia pada kesuksesan dan keselamatan lahir dan batin. Namun karena keangkuhan dan kecenderungan mereka pada perbuatan dosa, serta aktivitas lain yang tercela, mengakibatkan mereka menolak petunjuk itu.
مَا يَأۡتِيهِم مِّن ذِكۡرٖ مِّن رَّبِّهِم مُّحۡدَثٍ إِلَّا ٱسۡتَمَعُوهُ وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ
Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main, (QS. al-Anbiya, 21:02).
Orang-orang kafir yang hati kecilnya mempercayai petunjuk al-Qur’an itu, tapi dalam prakteknya mereka menolak, diumpamakan dalam al-Qur’an seperti kaum pengembala yang memanggil hewan yang tidak mendengar kecuali mendengar seruannya belaka. Mereka digambarkan sebagai seorang yang tuli, bisu, dan buta, sehingga menolak kebenaran yang disampaikan kepada mereka dengan keangkuhan dan kesombongan.
وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ كَمَثَلِ ٱلَّذِي يَنۡعِقُ بِمَا لَا يَسۡمَعُ إِلَّا دُعَآءٗ وَنِدَآءٗۚ صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٞ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. Mereka tuli, bisu dan buta, maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti. (QS. al-Baqarah, 02:171).
Pada akhir ayat ini ditegaskan bahwa Nabi s.a.w. tidak akan mampu untuk membuat mereka bisa mendengar dan mengerti pada kebenaran, karena hati mereka telah tertutup dari petunjuk Allah s.w.t.. Pendengaran mereka tajam, akan tetapi tidak mau mendengar petunjuk dan kebenaran. Demikian juga, Nabi tidak akan mampu memberikan petunjuk pada orang-orang yang keras hatinya, dan menolak petunjuk, karena hanya Allah yang memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Perhatian mereka terhadap al-Qur’an tersebut hanya secara lahiriah, mereka hanya tertarik pada keindahan susunan bahasanya, bukan memperhatikan isinya dan kandungan pelajaran yang ada di dalamnya. Mereka sama sekali tidak mau memahami dan memikirkan serta menghayati isi yang terdapat dalam ayat tersebut. Hal ini semua mengakibatkan cahaya iman tidak dapat menembus hati mereka, karena telah tertutup oleh noda-noda kemusyrikan. Mereka tidak mampu melihat petunjuk kebenaran yang terkandung dalam kitab suci itu. Sesungguhnya, pandangan batin inilah yang bertumpu pada sanubari yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain.
Sekiranya manusia mau memikirkan dan memahami apa yang dilihat dan didengarnya, pasti mereka akan menerima petunjuk kebenaran tersebut. Dijelaskan selanjutnya, bahwa siapapun tidak akan mampu memberikan petunjuk pada orang-orang yang hatinya telah tertutup dan keras bagaikan batu, bahkan lebih keras lagi. Cahaya iman hanya akan memasuki hati yang lembut dan menerima petunjuk, baik dari ayat-ayat al-Qur’an, maupun dari al-Sunnah.
وَمِنۡهُم مَّن يَنظُرُ إِلَيۡكَۚ أَفَأَنتَ تَهۡدِي ٱلۡعُمۡيَ وَلَوۡ كَانُواْ لَا يُبۡصِرُونَ
Dan di antara mereka ada orang yang melihat kepadamu, apakah dapat kamu memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta, walaupun mereka tidak dapat memperhatikan. (QS. Yunus, 10:43).
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآياَتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلَهُ, أَرْسَلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ. اَللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ اَللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلًا وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمْسُلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ اَللّهُمَّ أَصْلِحِ الرُعَاةَ وَالرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فىِ السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.