Dari Air Wudlu Pencoleng

0

Berprasangka baik kepada siapa pun akhirnya dapat menuai manfaat besar serta dapat menyadarkan sekelompok penyamun  untuk kembali ke jalan Allah SWT.

 

Kamis malam di awal bulan Rabiul Awal tahun 821 Hijriyah. Terlihat, orang-orang mulai bedatangan memenuhi hauzah Syaikh Ali Labidi dalam rangka ikut merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Mereka sebagian besar berdatangan dengan mengenakan baju serba putih. Mereka juga membawa makanan masing-masing yang selalu dilebihkan untuk orang lain, sehingga makanan melimpah ruah. Belum lagi Syaikh Ali yang juga menyiapkan makanan ratusan bungkus untuk tamu-tamunya.

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad itu diselengarakan sangat meriah dan menjadi tradisi turun temurun dari keluarganya. Kisah Rasulullah dibacakan dalam bentuk syair dan dilagukan secara merdu bergantian oleh sejumlah murid Syaikh Ali dan diiringi tabuhan rebana. Para hadirin juga menyambutnya bacaan itu dengan bacaan selawat yang lain. Suara itu menggema jauh hingga pada suatu tanah lapang yang luas.

Syaikh Ali kemudian menutupnya dengan wejangan tentang cuplikan kehidupan Rasulullah yang penuh teladan. Banyak hadirin yang menangis mendengar kisah keagungan Nabi Muhammad yang harus menjadi teladan mereka. Kisah abadi yang menjadi keharusan bagi setiap muslim untuk mengetahuinya.

Suara selawat itu menggema hingga jauh dibawa angin gurun malam hari hingga sampai pada lembah Firan. Di situ ada 40 penyamun yang sedang menghitung hasil pekerjaan jahatnya. Ada uang dinar, dirham, emas permata, pedang, baju, karpet dan lain sebagainya. Harta itu mereka rampas dari kafilah yang berlalu hendak menuju atau dari Bagdad dari dan menuju Suriah.

Setelah selesai menghitung dan agaknya hasilnya kurang memadai. Mereka menggerutu dan saling menyalahkan. Mereka kemudian mencoba tidur di atas tumpukan batu. Tapi, suara gema selawat itu sangat mengganggu mereka. Suara itu naik turun tergantung terpaan angin.

“Kita tidak mungkin tidur di sini,” kata pimpinan mereka yang mereka sebut Ammar. “Tempat ini tidak aman dan terlalu terbuka. Jangan-jangan hasil kita bisa direbut orang lain setelah kita terlelap,” kata Ammar.

“Lantas, kita mau ke mana? Kota? Tak mungkin, jangan sampai warga kota melihat kita dan menangkap kita untuk diserahkan kepada Amir,” kata penyamun yang lain, mereka memanggilnya Saad.

Baca Juga :  Huma di Atas Bukit

Suara selawat itu terus menggema dan semakin menganggu dan mengusik tidur mereka. Mereka berkali-kali mengumpat karena tak bisa memicingkan mata. Sebagian yang tertidur kemudian terjaga mendengar suara itu.

“Kalau begitu kita datangi saja tempat ramai itu. Siapa tahu kita bisa dapat makan gratis dan tempat tidur semalam saja,” kata Ammar.

Mereka setuju. Kuda-kuda mereka lantas disiapkan menuju tempat gema dan kumandang selawat itu. Mereka takjub melihat kerumunan begitu banyak orang dengan mengenakan baju serba putih yang duduk khidmat mendengarkan wejangan seorang ulama.

Mereka tak bisa duduk ke dalam dan hanya bisa duduk di luar setelah menambatkan kuda-kuda mereka. Beberapa santri memberinya minuman dan makanan. Mereka santap makanan itu sambil mendengarkan ceramah Syaikh Ali tentang kemuliaan Nabi Muhammad. Tapi, mereka tak tertarik mendengarkannya.

Para penyamun itu tiba-tiba tertidur lelap. Mereka tak sadar hingga acara udah usai. Seorang murid Syaikh Ali melapor bahwa masih ada 40 orang yang belum pulang dan agaknya tertidur pulas di tenda. Syaikh Ali memeriksa. Mereka adalah orang asing yang tak pernah dilihat sebelumnya. Ia kemudian mengisyaratkan kepada muridnya untuk membiarkan mereka serta menjaganya pada malam itu.

 

Gadis Zainab

Syaikh kemudian masuk ke rumah dan disambut Zainab. Ia anak semata wayang yang berusia delapan tahun. Ia tengah diuji Allah dengan kelumpuhan. Anak itu digendong dan dipeluknya erat. Setelah tertidur dalam dekapannya, ia letakkan di ranjang tidurnya di kamar sebelah.

“Ya Allah sembuhkan anakku ya Allah,” katanya berdoa sambil menutup pintu kamar anaknya.

Malam itu Syaikh Ali sulit tidur memikirkan orang-orang asing yang hadir pada acara peringatan Maulid Nabi Muhammad di hauzahnya. Mungkin dia orang jauh yang sekaligus menginap. Dari raut mukanya, mereka masih muda antara usia 20 sampai 23 tahun.

Keesokan harinya, Syaikh Ali menjumpai mereka. Syaikh terkesan bahwa orang-orang muda ini juga ingin menimba ilmu Syaikh Ali. Syaikh Ali menyambut dan kemudian memberinya empat ruangan besar untuk mereka tinggal bersama.

Mereka gembira diberi izin tinggal meski harus menyempatkan mengaji setelah salat Subuh. Siang mereka pergi merampok. Berangkat seolah orang-orang alim dan kembali menjadi orang-orang alim secara pura-pura. Di malam senyap, mereka menghitung harta haram rampasan mereka.

Baca Juga :  Tausiyah: Ulama yang Menjauhi Harta

“Kita panen besar,” teriak Saad.

Mulutnya segera dibekap oleh Ammar. “Kau gila, didengar syaikh habislah riwayat kita.”

“Bagaimana jika kalung emas ini kita berikan anak syaikh yang menderita lumpuh itu sebagai ucapan terima kasih kita?” kata Ammar.

“Sekalian gelang berlian yang kita dapatkan kemarin,” sergah yang lain.

Mereka setuju.

 

Air Wudlu

Keesokan harinya, lima orang mewakili mereka datang menghadap Syaikh Ali yang menyambutnya dengan hangat.

“Kami terkesan dengan pengajian tadi pagi syaikh,” kata Ammar. Mereka pura-pura karena mereka hanya sekedar ikutan dan tak pernah memperhatikan penuh pengajian itu.

Syaikh Ali kemudian bercerita tentang dirinya dan asalnya. Ia berasal dari kota Tikrit, utara Bagdad yang datang kemari atas permintaan warga desa untuk mengajar mereka. Syaikh Ali menimba ilmu di Bagdad dan Khorasan. Ia juga pernah belajar di Mekah dan Madinah sambil menunaikan ibadah haji. Syaikh Ali memiliki 48 guru dari bemacam ulama dengan keahlian tersendiri dari bermacam aliran atau mazhab.

“Murid-muridku hidup itu harus ikhlas dan harus berbaik sangka kepada Allah dan juga kepada manusia. Begitu juga dalam menuntut ilmu jangan sekali-kali terbersit keinginan untuk memperoleh harta dan kedudukan di dunia. Jika itu kalian lakukan maka sia-sialah ilmu yang kalian dapatkan karena hanya murka Allah yang kalian dapatkan.”

Mereka mendengar dengan seksama.

“Apakah kalian memiliki maksud tertentu menghadapku pagi ini?”

“Benar syaikh.”

“Baik, utarakan!”

“Kami ingin memberikan kalung dan gelang ini untuk puteri syaikh.” Ammar menyerahkan bungkusan itu dan diterima syaikh yang langsung dibukanya.

“Masya Allah, kalian ikhlas memberinya?” tanya syaikh.

“Benar, syaikh, kami benar-benar ikhlas.”

“Terima kasih semoga Allah membalas kebaikan kalian semua dengan pahala yang tiada terhingga.”

Zainab kemudian dipanggilnya. Mereka kaget karena Zainab ternyata sudah bisa berjalan dan bahkan gesit langkahnya. Seingat mereka, Zainab lumpuh tak bisa berjalan. Gelang dan kalung itu dikenakan Zainah oleh tangan syaikh sendiri. Tampak wajah Zainab yang sangat gembira mengenakannya.

“Tentu anakku sangat bahagia menerimanya,” kata syaikh.

Mereka lantas bertanya kepada syaikh. “Wahai syaikh, bagaimana cerita Zainab bisa sembuh dari kelumpuhannya?”

“Ini semua berkat kalian juga.”

“Berkat kami? Bagaimana mungkin?”

Baca Juga :  Ketika Al-Fatihah Selesai Dihafal

“Dengarkan ceritaku.”

Mereka menyimak.

“Ketika kalian datang berguru kepadaku, aku mengagumi kalian. Masih muda, kuat, dan ingin menimba ilmu. Aku melihat kalian orang yang sangat baik. Seseorang yang berniat menuntut ilmu itu pastilah dia orang baik. Menuntut ilmu itu godaannya besar.

“Karena itu ketika kalian bersuci mengambul air wudlu aku ikuti kalian dan mengambil sisa air wudlu kalian dan aku usapkan ke sorbanku dan kemudian dari sorbanku itu aku usapkan kepada Zainab. Aku berharap, dari keikhlasan kalian menuntut ilmu ada sedikit berkah dari sisa air wudlumu untuk bisa menjadi penyebab kesembuhan anakku satu-satunya yang sangat aku cintai.

“Memang, sekali tak ada pengaruhnya. Dua kali juga tak ada pengaruh apa pun untuk Zainab. Tapi, saya yakin pada air wudlu kalian ada berkah. Maka pada usapan yang ketiga, Allah memberikan kasih saying-Nya untukku. Zainab bisa bangun dan bisa jalan seketika. Karena itu aku sangat berterima kasih dengan kehadian kalian di sini yang telah menjadi sebab sembuhnya Zainab.”

Mereka tak kuasa mendengar kisah itu dan kemudian mereka menangis tersedu sedan di hadapan Syaikh Ali. Kemudian mereka kembali ke biliknya. Ketika tiba di biliknya, teman-temannya yang lain tengah siap bekerja merampok dan menyiapkan alat-alat dan senjata.

“Tidak,” kata Ammar. “Sejak saat ini kita hentikan pekerjaan laknat yang merugikan orang lain itu. Kita berdosa besar. Mari kita bertobat dengan menghadap syaikh dan menyatakan terus terang kisah hidup kita. Saya tidak sanggup hidup begini terus karena telah membuat derita dan menganiaya orang lain yang kita ambil hartanya.”

Ammar kemudian bercerita kepada teman-temannya hasil pertemuan dengan Syaikh Ali tentang kisah kesembuhan Zainab. Mereka semua menangis dan bertobat.

Syaikh Ali menerima mereka dan sangat bangga bahwa mereka belajar dengan tekun dan akhirnya menguasai ilmu agama dengan baik. Dari 40 penyamun ini empat di antaranya menjadi syaikh. Sisanya menjadi orang-orang baik dan semuanya mengajar agama di lingkungan yang berbeda. Sebagian mereka kemudian menikah dengan murid-murid Syaikh Ali dan menyebar.

Kisah ini dikembangkan dari ceramah KH Syadid Djauhari, Pengasuh Pesantren Assuniyah, Kencong, Jember pada haul KH Hasan Abdillah di Banyuwangi. (Musthafa Helmy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.