Tanah Nusantara merupakan tanah yang subur dan indah, tak heran jika banyak negara yang ingin menguasainya, mulai dari Belanda, Jepang dan Portugis, karena memang tanahnya subur dan kaya dengan sumber alamnya. Sampai ada ungkapan bahwa “Indonesia adalah sepotong tanah surga yang jatuh ke bumi”, saking begitu eloknya bumi Nusantara ini.
Di antara potongan bumi Indonesia yang menyatakan kemerdakaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 ini ada bumi yang bernama Bondowoso. Kabupaten Bondowoso memiliki suhu udara yang cukup sejuk dan segar, karena berada di antara pegunungan, Gunung Ijen, Gunung Argopuro, Gunung Alas Sereh, Gunung Biser dan Gunung Bendusa.
Di tengah kesejukan dan keindahan alam Bondowoso, hiduplah sepasang suami-istri yakni Kiai Basri Abdusshomad dan Ibu Nyai Arba’iyah, tepatnya di Desa Koncer Darul Aman Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.
Kiai Basri merupakan putra dari Kiai Abdus Shomad bin Zainal Abidin dan Ibu Nyai Aminah, Sumber Salam Dumas. Setelah menginjak usia remaja kemudian mondok di Kiai Mariuddin Sentong Keraksaan. Selepas menimbah ilmu di pesantren, lalu menikah dengan Nyai Arba’iyah putri H.Thohir dan Nyai Asmi yang berasal dari Bata’an Dusun Koncer Malang yang kemudian hari menjadi Koncer Darul Aman. Di tanah inilah Kiai Basri menetap dan mendirikan Pondok Pesantren Nurul Huda pada tahun 1916 (sekarang: PP. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki).
Seiring berjalannya waktu, keluarga kecil Kiai Basri dikarunia keturunan putra-putri yang menambah kelengkapan dan kebahagian keluarganya, di antara putra-putrinya adalah Thowiah, Hasan Basri, Husien, dan Khadijah.
Kiai Basri merupakan sosok yang sangat dermawan dan peduli akan nilai-nilai agama. Hal ini beliau tunjukan dalam cara mendekati masyarakat sekitar, serta untuk mensyiarkan ajaran-ajaran agama. Tak jarang beliau memberikan materi, membantu ekonomi masyarakat sekitar yang kemudian oleh beliau mereka diajak untuk melaksanakan ibadah- ibadah wajib umat Islam.
Karena bagi beliau, apalah arti sebuah harta jika tidak digunakan dalam perjuangan dan syiar agama Islam. Dengan sikap dan sifat Kiai Basri yang mulia ini, masyarakat mulai menaru simpati dan hormat kepada Kiai Basri. Hingga pada perjalanannya dengan adanya kepercayaan masyarakat ini, Kiai Basri dengan dukungan para habaib merintis sebuah lembaga pendidikan Islam, yakni Pondok Pesantren Nurul Huda.
Perhatian Keluarga
Seiring berjalannya waktu, putra-putri beliau juga tumbuh dewasa. Semuanya oleh Kiai Basri dididik dan diajari ilmu-ilmu agama dasar, mengaji al-Quran dan yang lainnya. Hasan Basri sebagai anak pertama laki-laki mendapat perhatian khusus dari ayahnya. Hal ini terlihat ketika telah manginjak usia dewasa, Hasan Basri muda dimondokkan di Pesantren Az-Zahra yang diasuh oleh Habib yang merupakan teman dekat Kiai Basri.
Perhatian Kiai Basri terhadap putranya ini semakin total saat selesai belajar di Az-Zahra. Kiai Hasan Basri muda sering diajak bertemu dengan para habaib dan tokoh-tokoh di Bondowoso, hingga pada saatnya setelah dianggap layak dan mampu oleh Kiai Basri, pengelolaan Yayasan Nurul Huda dipasrahkan kepada Kiai Hasan Basri.
Mendapat kerpercayaan dan amanah dari ayahandanya tentu, Kiai Hasan Basri merasa tidak layak dan mampu menjalankan amanah besar tersebut. Namun di sisi lain, hal tersebut adalah tanggung jawab yang harus diterima dan dijalankan dengan sungguh-sungguh demi syiar agama Islam.
Hal ini terlihat saat amanah dan tanggung jawab tersebut diserahkan kepada Kiai Hasan Basri beliau terus melakukan pengembangan pesantren dan pendekatan kepada para habaib dan ulama di Bondowoso. Kiai yang lahir 17 Juli 1941 ini sadar bahwa simbol dari pendidikan Islam, selain adanya lembaga tak kalah penting adalah berdirinya Masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan sosial kegamaan lainnya.
Dengan tekad dan niat yang kuat, Kiai Hasan Basri mulai membangun masjid dengan modal yang sangat terbatas. Tak jarang di tengah terik matahari dan di malam hari Kiai Hasan Basri turun langsung dalam proses pembangunan masjid, termasuk ikut membuat batu bata yang terbuat dari tanah liat.
Semangat mengabdi dan khidmat Kiai Hasan Basri terhadap agama dan masyarakat dari waktu ke waktu semakin kuat, tak ubahnya musafir di tengah padang pasir yang selalu haus untuk berkhidmat terhadap agama dan umat. Sehingga selain aktif di pesantren, Kiai Basri juga menghidmatkan diri di partai politik yang mengantrakan beliau menjadi aggota legislatif (DPRD) sebagai wadah perjuangan bagi masyarakat dalam tatanan negara.
Meski beliau banyak memiliki peran dan jasa di berbagai lini, namun Kiai Hasan Basri tak mau menonjolkan diri, termasuk tak mau dipuji. Karena bagi beliau yang terpenting adalah memberikan manfaat bagi agama dan masyarakat. Kiai Hasan Basri wafat Bulan Desember 2015, kabut duka menyelimuti keluarga besar Pondok Pesantren Al-Maliki Koncer, Bondowoso.
Di tengah kehidupan dan persaingan yang keras serta krisis di era saat ini, hadirnya sosok seperti Kiai Hasan Basri yang dengan penuh keikhlasan dan kesabaran menyebarkan nilai-nilai agama serta memperjuangkan hak-hak dan nasib masyarakat sipil melalui lembaga legislatif, sungguh sangat dirindukan. Semoga jejak shaleh beliau bisa diteladani oleh keluarga, santri dan masyarakat secara umum. Amin. (Noer Yadi Izzul Haq)