Tamu Menjelang Senja

0

Nabi Sulaiman atau Raja Sulaiman turun dari kuda terbaiknya berwarna merah keemasan. Seorang pengawal melepas sabuk dan pedang yang menghiasi pinggangnya. Baju zirrah pun dilepas dan dibawa seorang pengawal yang lain. Tersisa baju putih dan penutup kepala untuk menghadap ilahi di saat sore itu. Ia bersuci dan kemudian masuk ke kuil khusus di istananya dan melakukan ibadah.

Silsilah Nabi Sulaiman sebagai berikut: Sulaiman bin Daud bin Isya bin Uwaed bin Abir bin Salmun bin Nakhsyun bin Awinadzab bin Aram bin Hashrun bin Faridh bin Yahudza bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.

Setiap keluar dan masuk istana Nabi Sulaiman selalu melakukan salat. Ia baru saja pulang melakukan inspeksi yang diikuti ratusan pasukan manusia dan jin. Al-Qalyubi dalam An-Nawadir menyebukan bahwa Nabi Sulaiman memiliki satu juta pasukan reguler dan satu juta lagi pasukan cadangan.

Betapa hebatnya Nabi Sulaiman, seorang raja Judah yang memimpin Bani Israel sekitar 10 abad Sebelum Masehi itu. Ia menggantikan kekuasaan yang ayah, Nabi Daud. Menurut Ibnu Abbas, Nabi Sulaiman menjadi raja pada saat usia 13 tahun. Kini, sudah 40 tahun ia memimpin kerajaan Bani Israel. Istrana Nabi Sulaiman diperkirakan di sekitar Jerussalem.

Nabi Sulaiman kemudian meminta kepada pasukan dan pengawalnya untuk tidak mengganggunya beberapa hari. Ia ingin khalwat di ruangan khusus yang tidak boleh siapa pun masuk ke ruangan itu.

Di langit tampak beterbangan burung-burung hingga menutup kecerahannya. Nabi Sulaiman memiliki 70.000 macam burung yang masing-masing memiliki warna  berbeda. Berbagai binatang bisa bermain bersama dengan jenis makhluk lainnya.

Rakyatnya produktif menggali tambang baik dari kalangan jin dan manusia yang berdampingan damai. Bahkan dari kalangan jin banyak yang setiap hari menyelam ke dasar lautan mencari mutiara dan permata yang ada dalam perut laut dan bumi untuk kekayaan negeri.

Baca Juga :  Dari Air Wudlu Pencoleng

Inilah yang membuat kerajaan Nabi Sulaiman menjadi kerajaan yang kaya raya, nengara besar dan kuat yang disegani lawan.

Tidak ada kemiskinan. Tidak ada kelaparan. Raja selalu adil kepada rakyatnya. Hukuman selalu dijatuhkan atas asas keadilan yang bisa diterima semua pihak karena berlandaskan hukum Allah. Kisah perebutan anak, penggembala kambing dan lain sebagainya selalu dijadikan contoh kitab suci dalam mengantar risalah keadilan untuk umat manusia.

Beberapa ahli menghitung bahwa kekayaan kerajan Nabi Sulaiman jika dihitung sekarang mencapai lebih Rp 34.891 Triliun (US$ 2,2 triliun). Bandingkan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara RI Tahun 2024 yang disebut mencapai Rp3.325,1 triliun. Atau  membandingkan dengan anggaran negara besar Amerika Serikat yang mencapai US$4,6 triliun atau Rp67.658 triliun. Atau kekayaan orang terkaya dunia Elon Musk dengan US$195 miliar dolar AS. Karena itu disebutkan, Nabi Sulaiman adalah nabi paling akhir yang masuk ke surga karena harus melaporkan semua kekayaannya.

Menurut Syekh Bahauddin Al-Qalyubi dalam An-Nawadir, di balairung kerajaan terdapat kursi raja yang terbuat dari emas dengan pernik permata rubi memenuhi. Masih ada 3.000 kursi untuk rakyatnya. Juga, tersedia 60.000 kursi yang tersedia di Balairung itu yang masing-masing tertulis nama-nama pejabat semua tingkatan serta ulama seantero kerajaan.

Dan, setiap harinya disembelih 100.000 domba dan 40.000 sapi untuk rakyatnya agar bisa dapat makan gratis. Tapi, Nabi Sulaiman sendiri hanya mau makan dari hasil tangannya sendiri. Ia tidak ikut makan makanan rakyatnya. Ia makan roti gandum kasar yang sangat sederhana.

Tamu Mengejutkan

Nabi Sulaiman kemudian duduk di singasananya sambil bepegangan tongkat kayunya. Tapi, ia kemudian menatap aneh di sudut selatan ruangan khususnya itu. Ia lihat seorang laki-laki yang sangat tampan yang belum pernah ia lihat wajah setampan itu di Jerussalem.

Baca Juga :  Tausiyah: Satu Dinar untuk Ibunda

“Salam untukmu wahai Nabi Sulaiman,” sapa laki-laki asing itu. Nabi Sulaiman menjawabnya.

“Siapa Anda, bagaimana anda bisa masuk ke ruangan ini tanpa izinku,” tanya Nabi Sulaiman, dari tempat duduknya.

“Maaf Nabi Allah, kami tak memerlukan izin untuk masuk rumah siapa saja,” jawab tamu itu.

“Siapa yang memberi izin?”

“Allah.”

“Jadi Anda?”

“Iya, saya Malaikat Maut, Izrail.”

Izrail yang sekarang yang ia hadapi berbeda dengan Izrail yang tampil untuk mencabut nyawa umat Nabi Sulaiman. Karena berhadapan dengan seorang nabi dan rasul maka Malaikat Izrail tampil dengan wajah yang paling menawan sebagaio penghormatan.

Saat itu Nabi Sulaiman mulai kaget bahwa ia tengah berhadapan dengan utusan Tuhan yang bertugas mencabut nyawa siapa pun tanpa izin pemiliknya. Kakinya mulai gemetar.

Usia Nabi Sulaiman masih belum begitu tua, 53 tahun, sebagian menyebut 52 tahun dan 63 tahun. Tapi, Allah telah memanggilnya.

Awan merah belum memadati ufuk barat dan nyanyian surgawi tengah berkumandang menjelang ibadah malam, Nabi Sulaiman menghembuskan nafas.  Tanpa rasa sakit, bagaikan menarik sehelai rambut dari tepung, nyawa itu telah lepas cepat tanpa reaksi. Sementara Nabi Sulaiman masih dalam posisi duduknya bertengger pada tongkat kesayangannya.

Kala itu tak ada yang berani mengusik dan membuka pintu khalwat sang Nabi sehingga tak diketahui kemangkatannya. Sebagian ahli sejarah, antara lain Ibnu Mas’ud menyebut hingga setahun persis kemudian kematiannya baru diketahui pasukan dan umatnya. Ia jatuh setelah tongkat penopangnya rapuh.

Firman Allah: “Maka, ketika telah Kami tetapkan kematian (Sulaiman), tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu, kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Ketika dia telah tersungkur, jin menyadari bahwa sekiranya mengetahui yang gaib, tentu mereka tidak berada dalam siksa yang menghinakan.” (QS. Saba’ ayat 14).

Baca Juga :  Gus Dur, NU dan Nabi Khidlir

Dikutip dan dikembangkan bebas dari kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Al-Qalyubi halaman 21-22 (kisah ke 32), koleksi Universitas Columbia, AS, nomor katalog 53169 B dan Araisul Majalis (Qishashul Anbiya) karya Imam Abu Ishaq Ats-Tsa’labi An-Naysaburi halaman 437-440 cetakan keempat terbitan Darul Fikr 1382/Januari 1963. (Musthafa Helmy)

Leave A Reply

Your email address will not be published.