Benarkah Pembegal Nasab Seperti Wahabi (Mencermati Pidato Rais Aam)

0

Polemik Nasab kaum Ba’lawi mendapat tanggapan Rais am PBNU yang menyatakan mereka (para pembegal nasab) terindikasi cara cara Wahabi.
Benarkah demikian?

Jika kita perhatikan cara berargumentasi sikap pemikiran mereka yang membatalkan nasab, maka ada korelasinya dengan cara Wahabi, yaitu:

Pertama, sering kali Wahabi membuat kesimpulan tidak releven dengan dalil atau fakta. Seperti soal dzikir berjamaah, sholat terawh 20 rakaat, menurut wahabi tidak dilakukan oleh nabi persia seperti itu, maka dihukumi bidah.
Begitu juga soal qunut subuh, karena mendapati satu dua hadits tidak ditemukan, maka lalu disimpulkan bidah( padahal ada hadist lain yang menjelaskan nabi qunut subuh).

Pembatalan nasab juga begitu, dalam kitab syajaroh mubarokah, tidak ada kalimat membatalkan ( klan Ba’alawi ) hanya tidak menyebutkan tokoh Ubaidillah, maka disimpulkan tokoh fiktif dihukumi nasabnya batal dan terputus sampai nabi.

Kedua, tokoh hadits yang jadi rujukan kaum Wahabi, yaitu al-Bani yang melakukan verifikasi hadist, dengan cara menelaah kitab kitab lalu buat kesimpulan. Hal seperti ini juga digunakan oleh KH. Imaduddin Utsman ketika melakukan pembatalan nasab. Itu sebabnya wajar kalau dikatakan ikut cara Wahabi. Sementara ahlussunah waljamaah ikut metode yang digunakan Bukhari yang benar benar mencari sumber pada sumber primer.

Ketiga, menurut Gus Wafi setelah dilakukan penelitian mendalam ditemukan refrensi kitab kitab yang jadi rujukan tesis pembatalan nasab klan Ba’alawi oleh KH Imaduddin, ternyata banyak menggunakan kitab kitab pendapat referensi dari kaum Wahabi.

Keempat, banyak sekali pendapat Wahabi menyalahi ijma, seperti soal ayat ayat mutsyabihat kaum Wahabi memiliki pendapat sendiri. Begitu juga tesis pembatalan nasab juga menyalahi ijma’ ( karena naqobah dunia menyatakan sambung) dan juga ulama terkemuka seperti Ibnu Hajar (ulama hadits ) Buya Hamka pakar sejarah juga menyatakan sambung.

Baca Juga :  Refleksi Akhir Tahun 2024; Mengharap Resolusi Yang (Tak) Bersolusi

Kelima, mereka yang membatalkan nasab kini selalu olok olok kisah kisah karomah dari klan Balwi. Ini ikut cara cara Wahabi, lihat saja ceramah kaum Wahabi, yang selalu olok olok karomah yang populer dari kalangan Aswaja. Lihat di channel Wahabi isinya olok
olok karomah kiai kiai NU .

Keenam, pembegal nasab tidak menerima ikhtilaf dalam perbedaan, bahkan selalu nantang nantang ( meskipun diajak debat akhirnya kabur) juga membully tokoh tokoh PBNU. Ini ikut  cara Wahabi yang selalu menyerang keras terhadap pendapat yang berbeda.

Inilah cara cara Wahabi dalam perbedaan tidak ada toleransi. Sementara Aswaja ajarkan toleransi dalam perbedaan. Sebagaimana kaidah”kita saling menguatkan hal yang kita sepakati dan bertoleransi hal hal yang tidak disepakati”.

Dari fakta fakta diatas, maka apa yang disampaikan Rais Aam KH Miftackhul Akhyar ada relevansinya.

Hanya saja, memang isu polemik nasab ini penting dan bermanfaat untuk menjadi bahan renungan dari kalangan Ba’lawi agar mau bermuhasabah agar arogansinya dan hegemoniknya, merasa bangga dapat disudahi, karena tidak mencerminkan akhlak nabi.

Tentu diharapkan klan Ba’alawi kedepannya dapat berbudi bahasa dengan baik, khususnya ketua Robitho ( Habib Taufiq) yang tidak bisa qoulan Ma’rufa, bukankah demikian..?

2/6/2024
Mukhlas Syarkun (Aktivis NU). 

Leave A Reply

Your email address will not be published.